Mimpi Toba

*Dian Purba
Administrator
1.517 view
Mimpi Toba
Dian Purba
Danau Toba yang indah namun sedang tidur panjang itu sedang "dibangunkan" oleh dua film yang berkisah tentang dirinya dan para penghuninya: "Bulan di Atas Kuburan" dan "ToBa Dreams". Dengan sedikit keberanian dan sedikit intervensi kreativitas berinterpretasi, saya sangat tertarik menempatkan kedua film itu sebagai pengingat: bahwa Danau Toba, dengan demikian memasukkan orang Batak ke dalamnya, bukanlah tempat mimpi orang-orang yang akan menjadikan tempat itu sebagai kuburan.

Tanah Batak menyumbang sangat banyak perantau di hampir semua daerah di Indonesia. Kampung halaman Batak bukanlah daerah kaya. Di tahun 90-an, kampung halaman orang Batak berada di urutan ke-15 pendapatan per-kapita GDP, dari 17 Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara saat itu. Merantau menjadi salah satu alternatif mencari kehidupan yang lebih baik. Di tano parserahan itu mereka menemui modernitas, kemajuan, "menyempurnakan" kemajuan yang sudah mendatangi Tanah Batak. Mereka berjumpa beragam etnis, juga gaya hidup. Mereka kemudian beranakpinak. Generasi yang mereka lahirkan kemudian semakin berjarak dari bona pasogit (kampung halaman). Terjadi penambahan dan pengurangan kebudayaan yang mereka bawa dari Batak. Mereka di satu sisi mesti berkompetisi dengan budaya dominan. Di sisi lain mereka harus memperjuangkan seketat mungkin bagian-bagian kebudayaan asal mereka. Keturunan yang terlahir dari beberapa generasi yang sudah lama tinggal di daerah perantauan itu menjadi saksi sekaligus pelaku perubahan itu. Pertanyaan ini kemudian muncul: keterpautan seperti apa yang mengikat mereka dengan kampung halaman?

Kedua film itu bercerita tentang merantau dan perantauan. Film ini menjadi sanggahan kepada tulisan Anthony Reid. Reid menulis, "Mayoritas anak-anak dari Samosir yang sekarang lebih suka tinggal di kota-kota Indonesia, cenderung kembali ke kampung halaman hanya untuk berpesta dan untuk acara pemakaman kembali." Reid mengatakan makam dan monumen-monumen orang-orang meninggal adalah satu-satunya tanda investasi oleh orang-orang Batak rantau di kampung halaman nenek moyang orang Batak.Dengan demikian, penghubung antara orang desa dan kota adalah makam-makam itu, monumen-monumen itu.

Togar di "Bulan di Atas Kuburan" dan Mayor Tebe beserta keluarganya di "ToBa Dreams" adalah perantau yang sangat sadar bahwa masa depan itu ada di Toba. Tentu saja mereka mesti melewati jalan berliku untuk tiba di kesimpulan itu. Togar sempat kehilangan idealismenya di Jakarta. Kehebatannya sebagai penulis ulung dilacurkan ke seorang koruptor demi cinta dan demi peningkatan taraf hidup. Togar kemudian memutuskan pulang ke kampung. Di kepulangan itu dia menangis terisak-isak. Dia kembali mengingat ucapan di satu goresannya: Toba bukan hanya memberikan keindahan, namun juga menyediakan semua hal yang dibutuhkan untuk membuat masa depan. Mayor Tebe tetap mempertahankan idealisme yang dibawanya dari Tanah Batak. Setelah pensiun dia memutuskan melewatkan hari-hari tuanya di Toba. Namun, sepertinya, anak-anaknya menganggap pulang ke Toba adalah pulang ke keterbelakangan, pulang ke ketiadaan masa depan, pulang ke kehilangan segala cita-cita. Ronggur, si anak sulung, menjadi cermin sempurna bagi kita sehingga untuk perihal ini kita bisa berkata: begitulah anak rantau Batak terpaut dengan daerah asal muasal mereka.

Kedua film ini menjadi kritik yang sangat tajam kepada siapa pun yang berkepentingan dengan Toba dan Danau Toba. Setelah krisis ekonomi 1998, pariwisata Danau Toba hancur lebur. Ke mana para perantau itu? Dengan bertanya demikian, sesungguhnya, saya sedang menuduh mereka dengan tuduhan yang sangat serius: kepingan surga di Sumatera Utara itu dibantu terkubur sempurna oleh mereka. Apakah saya sedang berlebihan? Rasanya tidak.

Meninggalkan Danau Toba untuk merantau bukanlah sebuah kesalahan. Namun, bila segala hal yang didapat dari perantauan tidak dikembalikan ke kampung halaman adalah tindakan keliru. Apa yang dibutuhkan Danau Toba dan Tanah Batak sekarang ini? Guncangan. Yah, guncangan, seperti dia pernah mengguncang hampir separuh bumi dengan letusan dahsyatnya. Guncangan dari semua sisi. Guncangan pertama tentu saja menghilangkan kesadaran palsu bahwa Tanah Batak tidak mengandung masa depan dan impian. Lihatlah danau itu. Betapa indah dia ditatap dari sudut mana pun. Bukankah keindahan ini yang jadi impian itu?

Ada bulan di atas Danau Toba. Danau ini sudah terlalu lama terlelap. Danau ini sudah begitu parah dikenang pemiliknya hanya sebatas sebagai bona pasogit. Di tidurnya yang panjang itu, danau ini senantiasa bermimpi. Mimpi Toba. Dia ingin segera dibangunkan. Dia sedang berkata, "Merantaulah lalu kembalilah padaku. Bawa semua hal yang kita butuhkan untuk bercita-cita, bermpimpi, dan merajut masa depan."

***
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers tidak menjadi tanggungjawab Media Online mahardikanews.com Hubungi kami: redaksi@mahardikanews.com